JABARONLINE.COM - Setelah bertahan selama sepekan di lokasi pengungsian, sekitar 1.000 korban banjir di Karawang, Jawa Barat, mulai menghadapi masalah kesehatan. Kondisi fisik yang menurun, terutama pada anak-anak dan lansia, dipicu oleh kurangnya fasilitas dan suhu dingin di tempat penampungan sementara.
Ribuan jiwa tersebut berasal dari tiga kampung yang permukimannya terendam banjir, yakni Kampung Bugel Desa Purwadana, Kampung Pasir Jengkol, dan Kampung Tegal Luhur Desa Sukamakmur. Mereka mengungsi di kawasan pertokoan eks showroom Resinda Karawang sejak air mulai merendam rumah mereka.
Di lokasi pengungsian, warga beraktivitas seadanya, tidur beralaskan tikar dan kasur lipat bantuan. Namun, setelah tujuh hari mengungsi, keluhan kesehatan mulai bermunculan.
Janem (48), warga Kampung Pasir Jengkol, mengaku dirinya dan anak-anaknya mulai mengalami gangguan kesehatan. Ia mengungsi bersama sembilan anggota keluarganya.
“Saya mungkin kurang tidur jadi pusing. Anak-anak panas sedikit, mungkin karena kedinginan. Selimut tidak ada, kalau pagi badan mereka panas,” ujar Janem saat ditemui di pengungsian, Minggu (25/1/2026).
Meskipun kebutuhan makanan dan layanan kesehatan dasar telah terpenuhi, Janem menyebut masih ada kekurangan logistik penting.
“Kalau makan alhamdulillah cukup, kesehatan juga ada. Tapi yang masih kurang itu selimut, kasur, minyak kayu putih, sama popok bayi,” tambahnya.
Keluhan serupa juga dialami Nuni, pengungsi lainnya, yang anaknya mengalami demam selama dua hari terakhir.
“Iya, anak sakit panas. Tadi sudah diperiksa, dikasih obat sama tempelan di jidat,” tutur Nuni.